Resume Buku The Globalization of Nothing, George Ritzer, 2006, Universitas Atma Jaya: Yogyakarta
Definisi Kehampaan dan Keberadaan
Dalam bukunya Globalization of Nothing, George Ritzer kembali melakukan pemaparan secara jelas mengenai globalisasi. Globalisasi sebagai sebuah proses mendunia telah membawa satu efek besar terkait dengan pola konsumsi individu dalam masyarakat. Pemaparan Ritzer terkesan sangat filosofis sekaligus sosiologis dan ingin mengungkap makna tersembunyi dari apa yang disebut sebagai nothing (ketiadaan / kehampaan) yang dikonsumsi oleh manusia modern di era globalisasi saat ini. Ritzer memberikan penjelasan mengenai globalisasi dunia, yang mana segala sesuatunya dikendalikan secara terpusat dengan standardisasi yang meliputi tempat, segala benda, pelayanan dan jasa.
Ritzer menyatakan globalisasi sebagai ‘peredaran yang dipercepat’ menciptakan suatu masyarakat global, dimana sensitivitas hubungan personal mulai minimalis (atau bahkan tidak ada) karena jasa pelayanan yang diberikan sangat bersifat impersonal, bahkan bukan lagi orang yang menggerakan pelayanan tersebut, karena orang yang melakukan pelayanan dikendalikan secara terpusat oleh mekanisme mesin dengan teknologi tinggi. Tempat yang menjadi rujukan dan referensi dalam masyarakat global adalah supermarket, yang disebut Ritzer sebagai bukan tempat, lantaran ruang yang dimasuki adalah kehampaan yang tanpa memberikan makna apapun kecuali setting seragam dengan aneka barang bermerk global, produk individu semakin lemah dan terdominasi oleh pabrik global yang memproduksi bukan benda (non things) lantaran benda yang diproduksi tidak mengandung substansi apapun sebagai sebuah benda yang dikonsumsi melainkan telah direkayasa sedemikian rupa dengan merk yang mendunia.
Fenomena ini dicontohkan Ritzer melalui keberadaan supermarket, shopping mall (yang disebut sebagai non-places, bukan tempat), dan Gucci Jeans, ATM, Dolce serta pakaian merk Gabbana (yang disebut sebagai non-things, bukan benda) yang awalnya mendominasi masyarakat AS hingga sekarang dan kemudian diikuti tempat lain di dunia saat ini.
Ritzer memberikan suatu definisi mengenai apa ia maksudkan sebagai ketiadaan dan keberadaan (bukan sesuatu dan sesuatu, nothing and something) pada awal buku ini. Nothing (kehampaan) didefinisikan sebagai bentuk sosial yang biasanya disusun dan terkontrol terpusat dan sedikit sekali unsur membedakan (kekhasannya), tanpa isi substantif yang berbeda. Sedangkan something (keberadaan) didefinisikan sebagai sebuah bentuk sosial yang biasanya berasal dari yang asli pribumi, disusun dan terkontrol secara asli dan menguasai banyak di dalamnya unsur pembeda (kekhasannya), kaya muatan substansi yang berbeda. Dengan kata lain, keberadaan sesuatu adalah salah satu dari suatu jenis, dan kehampaan adalah ketiadaan keunikan.
Dalam dunia sosial, khususnya dunia konsumsi melibatkan banyak kombinasi mengenai kehampaan dan keberadaan yang terjadi di manapun. Kehampaan mungkin menonjol pada beberapa waktu dan tempat sementara keberadaan unggul dalam waktu dan tempat lainnya. Kehampaan dan keberadaan bukanlah kategori yang statis. Para pengusaha terus menerus mencoba mengubah kehampaan menjadi keberadaan dalam usaha untuk menghasilkan dan menjual lebih dengan melampaui ruang waktu dan tempat yang lebih besar. Sebaliknya yang lain, konsumen sering secara aktif akan berusaha secara aktif dalam proses pencarian mengubah kehampaan menjadi keberadaan.
Selalu ada dialektika antara keberadaan dan kehampaan. Dan pada titik ini, dalam sejarah dunia, kehampaan lebih cocok jauh lebih baik daripada keberadaan dengan perintah-perintah dari sistem kapitalis maupun fase dari globalisasi saat ini. Kehampaan jauh lebih mungkin untuk menemukan jalannya menuju setiap sudut masyarakat konsumen dan berjalan memasuki pelosok bumi. Selanjutnya dalam banyak kasus, penyebaran kehampaan yang dicontohkan melalui pinjaman kartu kredit melibatkan pemindahan, bahkan pengurangan dan penyingkiran terhadap keberadaan (pinjaman-pinjaman pribadi).
Konseptualisasi Kehampaan dan Keberadaan
Konsep berlawanan antara satu hal dengan hal lain, antar tipe yang saling berlawanan merupakan tradisi panjang dari karya sosiologi. Seperti konsep gemeinschaft (hubungan kekeluargaan, ketetanggaan, dan pertemanan) dengan gesselschaft (hubungan pada tingkat kota, nasional dan kosmopolitan) dari Ferdinand Tonnies, antara status dan kontrak (Maine), Tipologi militan dan industrial (Spencer), Solidaritas organik dan mekanik (Durkheim), desa dan kota (Redfield) skral dan sekuler (Becker) merupakan beberapa tipologi yang menjelaskan kategori yang ada di masyarakat dalam pengertian tipe-tipe yang luas dalam masyarakat. Sedangkan kehampaan dan keberadaan yang disampaikan Ritzer, lebih pada pembedaan secara sempit untuk membedakan antara tempat-bukan tempat, benda-bukan benda, orang-bukan orang, dan pelayanan bukan pelayanan dalam dunia konsumsi
Mengenai kontinum keberadaan dan kehampaan dapat dilihat dalam tabel dengan lima sub kontinuanya sebagai berikut:
|
Keberadaan |
|
Kehampaan |
|
Unik (satu yang sejenis) |
|
Umum (yang dapat dipertukarkan) |
|
Ikatan geografis lokal |
|
Kurang ikatan lokal |
|
Spesifik sesuai zaman |
|
Tanpa batas waktu |
|
Manusiawi |
|
Tidak manusiawi |
|
Mempesona |
|
Mengecewakan |
Banyak dari contoh disebutkan dalam buku untuk menjelaskan dialektika nothing-something (keberadaan dan kehampaan). Dan dari setiap keberadaan – kehampaan itu dalam setiap kontinumnya terdapat keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Penjelasan mengenai subkontinum keberadaan dan kehampaan dapat dijelaskan dengan beberapa penjelasan sebagai berikut:
1. Unik – Umum, Satu yang sejenis – yang dapat dipertukarkan
Contoh dari Ritzer menyebutkan Makanan Gourmet adalah keberadaan, sedangkan makanan microwave adalah kehampaan. Gourmet dicirikan sebagai sesuatu yang unik, satu yang sejenis dan kaya akan substansi khususnya. Dibuat oleh koki yang ahli dengan bahan yang bermacam-macam sedangkan microwave dicirikan sebagai makanan yang tidak kaya komponen pembuatnya, tidak ada pilihan, dibuat oleh bukan koki trampil tetapi dari rangkaian aturan temperatur yang diatur sedemikian rupa sehingga tidak memiliki substansi khusus yang unik, melainkan bersifat umum dan jauh dari bahan yang bervariasi seperti rempah-rempah yang alamiah melainkan telah dibuat standar umum tentang bumbu yang kurang lebih sama.
Contoh lain dari yang umum lainnya antara lain seperti sup Campbell, Kotak kraft Macaroni and cheese dan swason’s frozen TV dinners, inovasi baru makanan kemasan makanan ringan dan lunchables (produk kraft lainnya). Lunchables dilihat sebagai langkah lain dalam arah penggantian yang progresif dari makanan yang unik oleh makanan yang umum. Tren umum yang sama juga terjadi dalam domain konsumsi masyarakat.
Ada keuntungan-keuntungan dari yang unik (dalam kasus ini kesenangan-kesenangan yang muncul dari menyantap makanan gourmet) dam yang umum (contoh biaya rendah, efisiensi, dapat diprediksikan dan sebagainya dari makanan microwave dan lunchable)
Tetapi ada pula kerugian dari yang unik; biaya mahal, ketersediaan makanan-makanan gourmet terutama hanya untuk kelompok elite dalam masyarakat atau untuk mereka yang memiliki waktu untuk memasaknya. Meskipun dalam keseharian banyak orang yang dapat memasak sendiri dengan biaya murah. Sedangkan dari makanan yang umum seperti lunchables biasanya harus mengeluarkan biaya tidak hanya dalam membeli isi makanan tetapi juga label, kotak kemasan plastik yang belum tentu ramah dengan lingkungan karena tidak dapat didaur ulang secara alami.
Apa yang unik yang dicontohkan makanan gourmet cenderung memiliki akar-akar lokal (misal penggunaan bahan-bahan lokal yang segar, keahlian koki perseorangan terampil di dapur mereka sendiri), sementara apa yang umum (makanan microwave) cenderung kurang memiliki akar-akar seperti itu (bahan cenderung dari manapun dan dapat diperoleh di daerah manapun, dengan diolah sesuai instruksi-instruksi pada kemasan dan dapat diakses oleh siapapun, dimanapun)
2. Ikatan geografis lokal – kurang ikatan lokal
Mengenai keberadaan dan kehampaan dengan ikatan lokal – tanpa ikatan lokal ini, dicontohkan produk tembikar yang lokal yang ada di daerah Amerika dengan tembikar yang diproduski secara massal tanpa mengenal ikatan geografis lokal.
Apa yang memiliki ikatan lokal cenderung menjadi sebuah bentuk yang kaya dalam substansi khusus, terutama yang spesifik dan menegaskan daerah tersebut (contoh tembikar di Atzompa, Coyotepec atau Oaxaca) dan apa yang kurang memiliki ikatan seperti itu mungkin akan memilik substansi yang kurang dalam kekhususannya (contoh tembikar yang diproduksi secara massal). Dan ada tren jangka panjang yang menjauh dari kelaziman lokal (seperti semua tipe barang kerajinan) dan dalam arah dari apa yang memiliki sedikit ikatan lokal seperti itu.
Keuntungan yang berkaitan dengan tembikar produk lokal antara lain mempertahankan tradisi, melestarikan kerajinan lokal, namun pemberantasan produk lokal oleh tembikar produk yang diproduksi secara massal juga menghasilkan keuntungan seperti adanya daya tarik yang lebih bersifat umum, ketersediaan yang lebih banyak dan harga-harga relatif rendah.
Sedangkan kerugian yang ada dari tembikar produk lokal adalah ketersediaan yang terbatas, sedangkan dari produk massal tanpa ikatan lokal terdapat kerugian berupa kurangnya sentuhan dengan nuansa khas dari seorang pengrajin.
Tembikar lokal cenderung dikaitkan dengan periode waktu tertentu sementara tembikar yang dibuat secara massal cenderung tanpa batas waktu
3. Spesifik sesuai zaman – Tanpa batas waktu
Apa yang spesifik dalam periode zaman tertentu cenderung menjadi bentuk yang kaya dalam substansi khususnya (terutama refleksi dari era tertentu). Sebagai contoh adalah mobil tangguh yang diproduksi pada era tertentu dari komunitas lokal seperti Volkwagen, Thunderbird dan Convertible Chrysler Lebaron. Produk ini melekat dengan sebuah tradisi sejarah. Sedangkan apa yang tanpa batas waktu seperti contoh mobil Hyundai dari Korea dan cabangnya Kia saat ini lebih mungkin menjadi sebah bentuk yang sebagian besar kekurangan dalam subtansi khusus. Lebih memfokuskan diri pada pada isu-isu pragmatis berupa harga, garansi dan tawaran-tawaran khusus. Namun ada tren jangka panjang dari keunggulan dari apa yang spesifik terhadap sebuah periode tertentu.
Keuntungan berkaitan dengan apa yang terikat waktu dapat mengidentifikasikan diri dengan periode waktu yang mewakili pelanggan. Sedangkan tanpa batas waktu mempunyai keuntungan yang sama bagi pelanggannya, daya tarik kepada audiens yang jauh lebih besar dan besar dengan kesetiaan kepada periode waktu apapun daripada yang terikat waktu.
Sedangkan kerugian dari terikatnya waktu adalah kepentingan yang terbatas, sedangkan yang tidak terikat waktu cenderung tidak adanya kehadiran “jiwa”. Ketidakhadiran muatan yang merupakan refleksi terhadap sebuah periode waktu tertentu.
4. Manusiawi – Tidak manusiawi
Keberadaan diidentikan dengan sifat manusiawi yang menghubungkan relasi antar manusia dalam mewujudkannya sehingga kaya akan substansi khusus dibandingkan kehampaan yang mencirikan tidak ada hubungan yang manusiawi, cenderung bersifat impersonal. Sebagai contoh dalam kasus ini adalah universitas dengan hubungan langsung yang bersifat interpersonal antara sesama mahasiswa dibandingkan dengan universitas online yang saat ini mulai marak dengan ciri hubungan impersonal dan minim (atau bahkan tidak ada) tatap muka secara langsung. Universitas online hampir secara diametris bertentangan dengan sekolah tinggi yang kecil dan karena itu berada ada pada bagian akhir kehampaan dari kontinum.
Keuntungan dari bentuk-bentuk dengan hubungan manusia yang mendalam adalah kepuasan memiliki hubungan baik dalam sekolah tinggi dengan kemungkinan untuk belajar lebih banyak yang eksis dalam hubungan tatap muka diantara dosen dan mahasiswa. Sedangkan, pada bentuk yang tanpa hubungan manusiawi terdapat kebebasan dan efisiensi berkaitan dengan kurangnya keterlibatan personal dengan orang lainnya dalam universitas internet.
Mengenai kerugian dari bentuk hubungan manusiawi adalah kemungkinan terjadinya persaingan yang membuat seseorang menjauhi sekolah tinggi atau universitas. Sedangkan pada bentuk yang tidak manusiawi mempunyai kerugian berupa tidak adanya kehadiran jiwa yang menjadi makna dari universitas sebagai institusi pendidikan lantaran dilakukan secara online.
5. Mempesona – Mengecewakan
Kontinum terakhir ini membawa kepada semua kontinum yang terjadi sebelumnya. Apa yang menjadi kontinum keberadaan membawa kepada suatu yang mempesona dan penuh dengan substansi yang khusus, sedangkan apa yang menjadi suatu kehampaan akan membawa kepada sesuatu yang mengecewakan, kekurangan makna dan misteri magis.
Tentu saja sesuatu yang disusun dengan setting yang terpusat dan dikontrol secara sangat ketat dengan berbagai contoh mengenai bentuk-bentuk kehampaan di atas, bahan yang umum tersedia sepanjang tahun, dibuat tanpa keahlian pembuatnya dan tidak adanya hubungan yang manusiawi, tidak mungkin menjadi yang mempesona. Dan sebaliknya apa yang menjadi keberadaan dengan berbagai bentuk yang dipaparkan di atas, dengan keunikan bahan yang bersifat lokal, dengan keahlian pembuatnya, mempunyai nilai historis dan penuh hubungan manusiawi tentu akan menjadi suatu yang mempesona.
Bentuk Kehampaan
Dari beberapa kontinum kehampaan dan keberadaan di atas, dapat dilihat beberapa bentuk dari kehampaan yang diuraikan lebih jauh lanjut oleh Ritzer dalam sub bagian bertemu kenihilan. Beberapa bentuk utama kehampaan itu adalah:
Bukan tempat (dan tempat)
Perbedaan tempat dan bukan tempat erat berkaitan dengan pendapat Manuel Castell, bahwa kita sedang bergerak di dunia yang dicirikan oleh “space of places atau ruang-ruang tempat” kepada sebuah dunia yang didominasi oleh space of flows atau ruang-ruang aliran.” Ruang tempat sebagai setting yang bersifat unik, dicirikan oleh ikatan-ikatan geografis yang kaya dan sebuah aturan dengan ikatan-ikatan mendalam terhadap poin-poin spesifik dalam sejarah lokal. Sementara ruang yang penuh dengan aliran cenderung bersifat umum, tanpa batas geografis yang jelas, dan memiliki kualitas tanpa batas waktu.
Terdapat korelasi besar antara ruang tempat dan keberadaan, serta ruang aliran dengan kehampaan. Dengan memberikan ketidakstabilan terus menerus dan konstan dari kedua ruang tersebut. Adalah sulit untuk ruang-ruang aliran menjadi keberadaan. Ruang-ruang tempat lebih mungkin menjadi keberadaan karena memiliki stabilitas untuk mengembangkan basis substantif khusus, namun aliran-aliran kurang memiliki stabilitas dan relatif tanpa substansi seperti itu.
Sebagai contoh rumah makan lokal Chicago adalah keberadaan suatu tempat, sedangkan suatu rumah makan cepat saji adalah bukan tempat. Suatu tempat dari rumah makan lokal itu memiliki ruang tempat yang cenderung stabil dan memiliki kekhususan batas geografis yang jelas. Sedangkan bukan tempat dari restoran rumah makan cepat saji seperti McDonald, cenderung tidak mempunyai stabilitas dan menjadi relatif dalam batas geografisnya karena telah terbentuk aliran tertentu yang umum terjadi dimanapun.
Bukan benda (dan benda)
Dari suatu tempat dan bukan tempat, terdapat benda dan bukan benda yang menjadi produk yang dikonsumsi oleh masyarakat. Para produsen dan konsumen akan mengembangkan sebuah perasaan identitas dengan suatu benda dibandingkan yang bukan benda. Hal ini berkaitan dengan proses pembuatan benda yang memiliki proses waktu yang panjang, keunikan dan kekhasan tersendiri dari setiap bahan yang digunakan. Sedangkan bukan benda dicirikan sebagai suatu yang dikonsumsi dengan cara instan tanpa keunikan dari proses pembuatannya.
Sebagai contoh Big Mac adalah bukan benda, sedangkan Culatella Ham adalah benda. Big Mac merupakan produk dari makanan cepat saji McDonald yang menghasilkan rasionalisasi dalam proses pembuatannya karena efek dari produksinya menekan permintaan secara besar-besaran sehingga pekerja yang terlibat didalamnya dibayar rendah dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Sedangkan ham culatella mempunyai daya tarik tersendri di kalangan konsumennya dengan perasaan identitas yang kuat diantara mereka dengan menyukainya daripada alternatif yang lain dibandingkan para konsumen Big Mac yang lebih mungkin sekedar mengkonsumsi sebuah produk bersaing.
Bukan orang (dan orang)
Sebagaimana pendapat Erving Goffman (1959) mengenai non-person (bukan orang), yang dimaksudkan sebagai bukan orang adalah sebenarnya orang yang tidak diperlakukan sebagaimana orang, atau seseorang yang tidak bisa bertindak seakan-akan dia adalah seseorang, tidak berinteraksi dengan lainnya sebagaimana orang.
Contoh dari hal ini adalah suatu pelayanan di dalam suatu bar, kedai minuman tradisional adalah orang, sedangkan seseorang yang melayani dengan seragam Mickey Mouses di Disneyland adalah bukan orang. Bartender di kedai tradisional menjadi satu yang sejenis dalam karakter dan tentu saja unik. Dalam memberikan pelayanan mereka menampilkan dirinya sendiri dan memungkinkan untuk dikenal secara personal oleh pelanggan dengan baik. Tidak ada organisasi yang terpusat yang mengatur bagaimana seorang bartender harus bertindak dan mengontrol tindakan mereka. Berbeda dengan pelayanan anggota Disney yang dikontrol secara terpusat oleh Disney Corporation.
Mereka tidak memungkinkan menampilkan karakter dirinya sendiri. Apa yang dilakukan tiap orang harus sesuai dengan aturan dan naskah yang harus dijalankan dan akan bermasalah apabila mereka melakukan tindakan individual. Apabila bartender lokal memungkinkan memiliki ikatan sosial dengan lingkungannya dan mengembangkan diri dalam kelompok khusus dalam sebuah lingkungan. Maka pelayan bukan orang disney tidak mempunyai ikatan geografis lokal khusus karena pegawai bisa dari mana saja diambil dan dipekerjakan dimana saja, baik dalam lingkup antar negara maupun kota. Sehingga secara sosial tidak memungkinkan mereka menjalin ikatan yang kuat dengan lingkungan sekitar.
Bukan pelayanan (dan pelayanan)
Membahas mengenai bukan pelayanan dengan pelayanan terkait dengan bukan orang dan orang yang telah dibahas di atas. Bagaimana orang menghasilkan pelayanan yang prima dan sebaliknya bukan orang menghasilkan bukan pelayanan bagi pelanggannya. Sebagai contoh service pada suatu rumah makan Gourmet adalah pelayanan, sedangkan jasa layanan yang disajikan oleh pelayan di kapal pesiar adalah bukan pelayanan.
Para pelayanan di rumah makan Gourmet umumnya menawarkan pelayanan yang berbeda dan sesuai dengan dengan kebutuhan dan permintaan pelanggan. Walaupun kontrol dipegang oleh pemilik dan kepala pelayan,umumnya tidak ada kontrol terpusat karena cenderung menjadi satu yang sejenis dalam pengoperasiannya. Berbeda dengan service kapal pesiar, pelayanan dilakukan secara terpusat karena tempat yang luas dan besar. Apa yang dilakukan sebagai sebuah pelayanan merupakan subyek dari instruksi, garis pedoman dan buku petunjuk perusahaan . Sebagai hasilnya service yang diberikan hanya menawarkan pelayanan yang hanya sedikit perbedaan antara satu tamu dengan tamu lainnya. Oleh karenanya perbedaan substansial dari kedua jenis service ini menghasilkan dua bentuk pelayanan dan bukan pelayanan.
Globalisasi
Globalisasi adalah penyebaran kebiasaan-kebiasaan mendunia, ekspansi hubungan yang melintasi benua, organisasi dari kehidupan sosial pada skala global dan pertumbuhan dari sebuah kesadaran global bersama. Globalisasi merupakan proses yang sedang terjadi di dunia dengan ditandai oleh perdagangan bebas antar negara, transnasional. Berdirinya lembaga-lembaga seperti World Trade Organization (WTO), International Monetary Fund (IMF) merupakan lembaga penting yang berperan dalam arus globalisasi saat ini.
Permasalahan mengenai munculnya globalisasi mendapatkan kritikan yang tajam dari teoritikus seperti Roland Robertson yang menggarisbawahi apa yang menjadi persoalan pokok dari globalisasi. Dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah perubahan global menyebabkan homogenitas yang semakin meningkat atau heterogenitas yang semakin meningkat atau gabungan diantara keduanya?” dan Apa hubungan antara global dan lokal?”. Dua persoalan ini sangat erat berkaitan karena keunggulan lokal akan cenderung dihubungkan dengan heterogenitas sementara dominasi global akan lebih dihubungkan dengan homogenisasi. Kemudian persoalan selanjutnya adalah, “Apa yang mendorong proses globalisasi? Apa kekuatan penggeraknya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang coba dijawab dengan berbagai pemaparan Ritzer dengan membahas kekuatan penggerak globalisasi seperti Kapitalisme, McDonaldisasi dan Amerikanisasi.
Glokalisasi Vs Grobalisasi
Sebagai tambahan terhadap diskusi nothing-something, dan mengenai konsep glokalisasi yang terkenal, Ritzer memperkenalkan suatu istilah baru: grobalisasi. Menurut definisinya, glokalisasi yang didefinisikan sebagai interpenetrasi global dan lokal yang memberikan hasil unik dalam wilayah geografis yang berbeda. Apabila glokalisasi menekankan pada integrasi antara lokal dan global maka grobalisasi adalah suatu proses yang menciptakan homogenitas melalui perluasan global mengenai format umum dan praktek tertentu. Ia membuktikan bahwa kapitalisme, Mcdonaldisasi, dan Amerikanisasi adalah proses yang paling utama bagi grobalisasi. Pada sisi lain, glokalisasi melibatkan interaksi dari banyak format budaya lokal dan global yang memimpin heterogenitas dalam kaitan dengan variasi lingkungan budaya. Di tengah dua ekstrim ini, Ritzer menyatakan bahwa “globalisasi melibatkan suatu pertentangan antara grobal dan glokal”.
Secara keseluruhan -mengikuti pendapat Robertson- ada beberapa elemen esensial dari glokalisasi sebagai berikut:
1. Dunia sedang tumbuh menjadi pluralistik
2. Individu-individu dan kelompok-kelompok lokal memiliki kekuasaan besar untuk menyesuaikan diri, memperbarui dan melakukan manuver dalam sebuah dunia glokal.
3. Proses-proses sosial adalah berhubungan dan saling tergantung. Globalisasi memancing berbagai reaksi, dari kubu nasionalis sampai penerimaan kosmopolitan, yang hidup dari dan merubah grobalisasi yang menghasilkan glokalisasi.
4. Komoditas-komoditas dan media, arena dan kekuatan kunci dalam perubahan budaya pada akhir abad 20 dan awal abad 21 tidak dilihat sebagai (secara total) yang koersif, namun lebih sebagai penyedia materi untuk dimanfaatkan dalam kreasi individual dan kelompok di seluruh wilayah dunia yang terglokalisasi.
Kemudian, secara alamiah, grobalisasi mengarah kepada keragaman ide-ide yang sebagian besar merupakan antitesis:
1. Dunia semakin bertumbuh menjadi serupa. Teori grobalisasi cenderung meminimalkan perbedaan-perbedaan di dalam dan diantara wilayah-wilayah di dunia.
2. Individu-individu dan kelompok-kelompok secara relatif memiliki kemampuan untuk beradaptasi, memperbarui dan melakukan manuver dalam sebuah dunia yang tergrobalisasi.
3. Proses-proses sosial sebagian besar merupakan satu arah dan deterministik. Grobalisasi cenderung menyergap yang lokal dan membatasi kemampuannya untuk bertindak kembali kepada grobal.
4. Komoditas-komoditas dan media merupakan kekuatan kunci dan wilayah perubahan budaya dan mereka dipandang sebagian besar menentukan diri sendiri dan kelompok-kelompok di seluruh wilayah dunia yang tergrobalisasi.
Glokalisasi dan Grobalisasi menjadi subtema dari tema besar Globalisasi, dimana Grobalisasi diuraikan berkenaan dengan tiga subproses; Kapitalisme, McDonaldisasi dan Amerikanisasi. Ketiganya inilah yang menjadi kekuatan utama dalam penyebaran kehampaan global ditambah dengan media pendukung melalui internet yang menyediakan ruang penyebaran kehampaan yang canggih dan efektif. Walaupun tidak ada hubungan hukum diantaranya, akan tetapi terdapat elective affinity (hubungan tarik-menarik) antaranya. Salah satu diantaranya cenderung menggantikan eksistensi yang lainnya. Pada satu sisi, sebuah pasar global memaksa sejumlah besar dan banyak jenis kehampaan yang semakin meningkat, setidaknya sebagian darinya dibuat melalui iklan dan pemasaran oleh perusahaan dan negara dengan keuntungan dari penjualan dan distribusi kehampaan. Akhirnya jauh lebih mudah untuk menggrobalisasikan kehampaan daripada keberadaan; produksi kehampaan dalam jumlah besar bertanggungjawab terhadap perkembangan grobal.
Grobalisasi bersifat ekspansif dan berorientasi kepada pertumbuhan dan merupakan pasar global yang menawarkan tempat yang paling memungkinkan untuk ekspansi pasar. Karena grobal semakin memasuki yang lokal, semakin lama semakin sedikit lokal yang bebas dari pengaruh-pengaruh grobal. Mereka ini yang akan dibuang, dipindah atau diasingkan ke periferi-periferi dan celah-celah dari komunitas. Bagian terbesar dari yang tersisa jauh lebih baik dideskripsikan sebagai glokal daripada lokal.
Dalam komunitas, perjuangan yang nyata adalah antara grobal yang lebih murni versus glokal. Salah satu implikasi yang sungguh-sungguh krusial dari hal ini adalah bahwa semakin sulit untuk menemukan apapun di dunia ini yang tidak tersentuh oleh globalisasi. Alternatif utama dalam sebuah bagian ini adalah sebuah bagian yang terglobalisasi sifatnya secara mendalam (grobalisasi) dengan apa yang global dan bekas-bekas elemen lokal yang bercampur baur menjadi glokalisasi. Hal ini jelas menunjukan kemenangan global yang hampir total di seluruh dunia.
Oleh karenanya lokalitas harus disadarkan agar tidak kemudian hilang tergerus globalisasi yang mengeliminasi potensi lokal beserta keunikan karakter budayanya. Lokalitas dapat memainkan peranan kunci dengan sumber-sumber keanekaragaman maupun inovasi.
Resumer: Rohmad Suryadi (Mahasiswa Program Master Sosiologi UGM Yogyakarta)



Recent Comments